Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /customers/d/a/5/sabilulungan.org/httpd.www/40/wp-includes/cache.php on line 36 Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /customers/d/a/5/sabilulungan.org/httpd.www/40/wp-includes/query.php on line 21 Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /customers/d/a/5/sabilulungan.org/httpd.www/40/wp-includes/theme.php on line 508 40 Days in Europe » Main

Archive for the ‘Main’ Category

Naskah 40 Days: opening.. (bag 1) by PANDE

Sunday, March 29th, 2009

Pande (Mahendra Sila), sobat lama yg mantan kiper PS-ITB, dalam ke-isengan-nya (yg produktif), menulis Naskah untuk opening film 40 Days. Yang mau nambahin, komen, kritisi, bahkan ngelanjutin… silahkan….!

OPENING TITLE : 40 Days in Europe

FADE IN :

EXT. JALAN PARIS-ABERDEEN (PAGI HARI)

Terlihat sebuah bus berjalan meninggalkan kota Paris menuju kota Aberdeen. Bus itu memuat serombongan anak-anak muda pemain angklung yang akan mengikuti festival di kota Aberdeen.

CUT TO :
INT. BUS ROMBONGAN

Menyorot anak-anak yang sedang bersantai, kursi demi kursi hingga akhirnya berhenti di kursi depan yang diduduki DESI dan MAUL.
Desi sibuk dengan laptopnya sedang Maul memperhatikan dengan seksama.

CUT TO :
INT. LAYAR LAPTOP

Menyorot layar laptop milik Desi. Tabel excel memperlihatkan angka 10.150.

CUT TO :
INT. BUS ROMBONGAN

Desi menggeleng pada Maul, wajahnya cemas. Maul menghela nafas, kemudian melongok pada anak-anak lain dalam bus. Kemudian ia kembali menatap layar laptop Desi.

DESI

Kang, mungkin nggak kita dapat 10.150 euro selama di Aberdeen nanti ?

MAUL
(mengangkat bahu)
Kita coba saja …

DESI

Tapi kalau nggak bisa, gimana dong ?
(cemas)

MAUL

(menghela nafas)
Itulah yang saya sampai hari ini nggak tahu jawabannya.
(diam sejenak, memalingkan wajah pada jendela bus)
Saya tidak pernah bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
(kembali terdiam)
Jika nanti kita lolos, tidak terbayang oleh saya jalannya seperti apa. Jika tidak, saya pun tidak tahu apa yang nanti akan terjadi kepada kita.
(memandang kembali pada Desi)
Tapi yang jelas, hari itu …
hari disaat kita meninggalkan Aberdeen …
hari itu suatu saat pasti akan datang.
Dan saat itulah saya akan berkata,
Des, ternyata jalannya seperti ini.

Desi diam mendengar perkataan Maul. Kamera menyorot pada Maul, kemudian zoom in hingga menunjukkan kedua matanya.

DISSOLVE TO :

EXT. ETALASE SEBUAH TOKO OLAHRAGA, SORE HARI

Mata Maul sedang memperhatikan sebuah sepatu sepakbola Adidas Copa Mundial. Pada sepatu tertulis keterangan bahwa sepatu tersebut diobral seharga 30 EUR.

TEMAN MAUL 1

Wah, 30 euro, murah tuh, Ul …

TEMAN MAUL 2

Iya, kapan lagi bisa dapat Copa Mundial harga segitu …

Maul masih memperhatikan sepatu itu.

MAUL

30 euro itu kira-kira bisa dapat berapa donner ya ?

Dua teman Maul berpandangan, kemudian jari tangan mereka bergerak cepat melakukan hitungan.

TEMAN MAUL 2

Satu donner kira-kira sekitar 2 euro …

TEMAN MAUL 1

Jadi kalo 30 euro itu bisa dapat 15 donner, Ul …

MAUL

(memandang dua temannya)
Itu jatah makan satu minggu lho.
Daripada beli sepatu, uang segitu mah mending buat makan kan …
(tersenyum)

Dua teman Maul diam sejenak, lalu mengangguk mengiyakan.

TEMAN MAUL 1

Dasar, mahasiswa Gut und Billig …
(tertawa)

TEMAN MAUL 2

Konversi euro ke donner ini pasti salah satu prinsip pengetatan budget ala Maul …
(juga tertawa)

MAUL

Iya dong, namanya juga mahasiswa Gut und Billig
(ikut tertawa)

Rombongan pemuda tersebut kemudian meninggalkan toko olahraga, hingga akhirnya di suatu tempat mereka berpisah jalan.

FADE OUT

baru bikin segitu ajah … hehehe … mohon permakluman kalo masih ada kurang, masih amatir sih :)

Groetjes,

Pande

Hikmah di balik musibah

Sunday, August 26th, 2007

Ide untuk membukukan perjalanan ESA ini, sudah muncul sejak petualangan 40 hari tersebut berakhir. Sejak awal, saya tak pernah berhenti menyampaikan kepada anak-anak bahwa kisah ini terlalu indah untuk tidak dibukukan. Jangan sampai pengalaman berharga ini hilang begitu saja ditelan masa. Adalah tidak adil jika hanya kita saja yang mengambil banyak pelajaran berharga dari perjalanan ini. Kita harus berbagi kepada yang lain.

Namun kesibukan yang tak kunjung henti membuat rencana menulis buku ini tidak pernah terwujudkan. Diperlukan suatu komitmen yang betul-betul kuat dan kesabaran tingkat tinggi untuk dapat menulis dalam himpitan kesibukan yang tak pernah ada habis-habisnya..

Dua tahun berlalu sudah, dan saya masih belum juga bisa menemukan waktu dan kesempatan untuk menulis. Hingga akhirnya di bulan November tahun 2006 saya tertimpa musibah. Saya mengalami patah kaki ketika sedang bermain bola di kampus. Tidak tanggung-tanggung, tulang kering (tibia) dan tulang betis (fibula) saya keduanya patah. Garis patahan yang miring (oblique fracture) menyebabkan dokter harus melakukan operasi tibia dengan memasukkan metal ke dalam tulang kering saya (tibial intramedullary nail). Dan saya pun terdampar di rumah sakit selama 2,5 minggu. Sepulang dari rumah sakit, saya tetap tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Kondisi ini benar-benar membuat saya harus berhenti total dari semua aktivitas.

Tuhan memang Maha Pengasih dan Penyayang. Selama ini, saya terlalu jauh hanyut dalam kesibukan yang tak ada habis-habisnya. Dan satu-satunya jalan untuk membuat saya berhenti adalah dengan membuat kaki saya patah. Tuhan sayang terhadap saya, Ia hanya ingin saya berhenti, dan beristirahat.

Puji syukur, sekembalinya dari rumah sakit, banyak teman-teman yang mengurus saya. Mulai dari memasak, belanja, cuci piring, cuci baju, hingga mengganti seprei, semuanya dilakukan oleh mereka. Karena terlalu banyak merepotkan, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke Bandung. Saya pun mengambil cuti selama 4 bulan dari kampus. Sejak saat itulah, saya mulai menulis. Karena itulah satu-satunya aktivitas kreatif yang bisa saya lakukan di atas tempat tidur.

Selama beristirahat di Bandung, saya sangat produktif menulis karena saya tak memiliki beban apapun. Sekembalinya ke Lancaster, saya meneruskan menulis bab-bab yang belum rampung hingga akhirnya pada pertengahan tahun 2007, saya mampu menyelesaikan naskah ini. Andaikan kaki saya tidak pernah patah, mungkin buku ini tidak akan pernah ada. Buku ini semakin memperkuat keyakinan saya bahwa dibalik setiap musibah, pasti ada hikmahnya.

25 Juli, tiga tahun yang lalu

Sunday, August 26th, 2007

Tepat hari ini, 25 juli, 3 tahun yang lalu, tepat jam ini pula pukul 11 malam, tiga tahun yang lalu, di sebuah kamar di Berlin, orang-orang susah sedang menggantung nasib dan harapannya,

ketika mata-mata kita dipaksa untuk terjaga,
ketika otak-otak kita dipaksa merasionalisasikan yang tak rasional,
ketika hati-hati kita dipaksa percaya sesuatu yang sulit dipercaya,
disitulah awal lahirnya suatu karya besar.

Suatu cerita sejarah yang tak akan pernah luntur dari hati-hati kita. Cerita indah, kenangan sekaligus pelajaran tentang kehidupan manusia. Tidak ada yang lebih tahu, lebih mengerti, lebih bersyukur, betapa berharga dan indahnya kisah ini, kecuali kita dan setiap panggung-panggung kayu dan dinding-dinding kokoh tempat kita bersandar melepas peluh, air mata dan tawa, yang tersebar di antara Aberdeen dan Zakopane.”

Lancaster, 25 Juli 2007